RSS

CELAAN KEPADA YANG SIBUK MENDALAMI ILMU DUNIA DENGAN MELUPAKAN ILMU AHKIRAT

11 Jul

Oleh :Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali

Allah SWT berfirman, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai,” (Ar-Ruum: 6-7). Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesunggubnya Allah membenci setiap orang yang kasar lagi angkuh, rakus lagi kikir, suka gaduh di pasar seperti bangkai di malam hari, lihai dalam masalah dunia tapi jahil dalam masalah akhirat.”

Kandungan Bab:

Menguasai ilmu dunia saja merupakan salah satu bentuk kejahilan. Namun kebanyakan manusin tidak mengetahuinya. Meski secara lahiriyah mereka kelihatan seperti ulama dan mengetahui banyak hal. Sebenarnya ilmu mereka itu dangkal karena hanya berkaitan dengan perkara lahiriyah saja dari kehidupan dunia ini dan tidak mengetahui hakikat sebenarnya. Ilmu dunia tidak dapat digunakan untuk mengenal sunnatullah dan aturan-aturan-Nya. Tidak dapat mengenal wahyu dan syari’at-Nya yang Mahaagung dan hubungan-hubungannya yang sangat erat. Ilmu mereka tidak dapat melampaui hal itu dan tidak dapat mengetahui rahasia di balik itu.

Kehidupan duaia ini terbatas meskipun kelihatannya luas dan universal. Mereka terpaksa harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk menggalinya, itupun tidak dapat mereka kuras habis dalam kehidupan mereka yang sangat singkat meskipun mereka bahu membahu menggalinya. Kehidupan ini hanyalah sekelumit kecil dari kerajaan Allah yang Mahabesar yang berjalan menurut aturan dan sistem yang kokoh dan rapi.

Siapa saja yang tidak menghubungkan hatinya dengan pencipta alam semesta ini, tidak mengetahir sunnah-Nya yang tidak akan berubah dan ber-tukar, maka ia seolah-olah tidak dapat melihat meskipun ia telah memasang matanya. la melihat berbagai macam bentuk dan gerakan namun tidak mengetahui hikmahnya. la tidak dapat hidup dengannya dan bersamanya. Demikianlah kondisi manusia pada umumnya.

Sesungguhnya ilmu yang haq akan memberi kemurnian bagi pemiliknya yang akan membuka cakrawula bashirahnya. Akan memberikan nikmat keluasan pandangan kepada hatinya. Karena ilmu yang haq yang dapat digunakan untuk mengenali kebenaran adalah ilmu yang berhubungan dengan hakikat yang pasti. Bukan sekadar maklumat terpisah-pisah dan terputus yang menjejali pikiran yang tidak dapat mengungkap rahasia dibalik fakta dan realita. Dan justru akan melahirkan prinsip dan pemikiran yang menyimpang.

Sesungguhnya orang-orang yang tidak dapat mengetahui hakikat se-benarnya, tidak memperoleh manfaat dari apa yang ia lihat, ia dengar dan ia alami, tidak dapat mencapai hakikat yang benar dari realita dan pengalaman… mereka hanyalah para pengoleksi maklumat dan bukan ulama.

Ilmu agama ini tidak akan dapat diraih puncaknya dan tidak dapat dipetik buahnya oleh orang-orang jahil. Karena ia telah terkontaminasi dengan perangai-perangai yang buruk.

Saudara-saudaraku sekalian, coba simak firman Allah SWT yang senantiasa dibaca siang dan malam tentang keadaan mereka. Mudab.-mudahan bisa me-nambah kekhusyu’an kita, “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleb syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilab dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kcpada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidabnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itn agar mereka berfikir. Amat burhklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zhalim,” (Al-A’raaf: 175-177).

Allah SWT telah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada ummat manusia, telah mencurahkan karunia-Nya kepada mereka dan menganugerahi mereka ilmu serta memberikan kesempatan yang luas untuk meninggikan derajatnya dari rendahnya dunia dan untuk berhubungan dengan pencipta langit serta me-nempuh jalur hidayah, akan teiapi manusia lebih suka melepaskan diri! la melepaskan diri dari ayat-ayat-Nya, menanggalkan pakaian wahyu yang di-berikan padanya. la lebih suka menyimpang dari hidayah lalu lebih memilih mengikuti hawa nafsu. Lebih suka berkubang dengan lumpur!

Ini adalah perenungan yang dapat dipetik dari perumpamaan dalam bentuk berita. Sebab hal seperti ini acapkali terjadi. Betapa sering kejadian se-perti itu berulang dalam kehidupan manusia! Berapa banyak orang yang telah dianugerahi keutamaan tersebut dan diberi kesempatan emas itu namun tidak mendapat petunjuk?! Mereka justru memanfaatkan ilmu sebagai wasilah untuk menyelewengkan kalimat dari maksud sebenarnya dan mengikuti hawa nafsu dalam memahaminya. Hawa nafsu mereka dan hawa nafsu para thaghut yang -menurut anggapan keliru mereka- menguasai kebutuhan duniawi mereka…

Oleh sebab itu, kamu lihat mereka berkhidmat untuk para thaghut dalam memalingkan kalimat dan maksud sebenarnya dan dalam mengeluarkan fatwa-fatwa yang diinginkan. Maka mereka pun terlepas dan ikatan agama dan syi’ar-syi’arnya.

Sesungguhnya, itulah kutukan yang Allah SWT ceritakan dalam ayat tersebut, “Dan kalau Kami menghendaki, scsunggnhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat ayat itu, tetapl dia cenderung kepada dunia dan menurutkan bawa nafsunya yang rendah maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidabnya (juga),” (Al-A’raaf : 176).

Mereka menjulurkan lidahnya dibalik kendali yang dipegang oleh para penguasa. Dunia ini adalah bangkai, dan yang mangejarnya adalah anjing!

Itulah ilmu yang tidak dapat memelihara pemiliknya dari himpitan syahwat dan ambisi hingga membuatnya hina. la condong kepada dunia dan tidak dapat bergerak dari perangkap lumpurnya, dari kekangan dan bebannya. la gunakan ilmunya untuk berkhidmat membantu hawa nafsunya. Lalu ia diikuti oleh syaitan dan dikendalikan dengan tali kekang hawa nafsu.

Ilmu ialah ma’rifah, ‘aqidah, dan ‘ubudiyyah Jadi, ilmu bukan sekedar maklumat yang terkumpul. Akan tetapi ilmu adalah ikatan ‘aqidah yang mendorongnya untuk merealisasikan ubudiyah kepada Allah dalam hatinya di atas dunia ini.

Sebenarnya, ilmu teoritis yang dangkal tidak dapat menghasilkan apa-apa. Sebab itu hanyalah sekadar maklumat kosong yang tidak dapat mengekangnya dari hawa nafsu, tidak dapat melepaskan himpitan syahwat dan tidak dapat menolak tipu daya syaitan. Bahkan sebaliknya, mempermulus jalan syaitan!

Allah SWT berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya pe-tunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kebidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang ituy mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja,” (Al-Jaatsiyah: 23-24).

Begitulah reatitanya wahai hamba yang munib (bertaubat), mereka itu adalah satu golongan manusia yang seluruh aktifitas hidupnya hanya berkaitan dengan dunia dan bumi… :sementara mereka lalai terhadap akhirat..! Sebab mereka tidak memahami hikmah penciptaan manusia, lalu mereka lalai terhadap akhirat dan tidak mengagungkannya sebagaimana. mestinya. Tidak memperhitungkannya sama sekali dan tidak mengetahui bahwa akhirat merupakan terminal akhir dan awal dari sebuah perjalauan baru. Tidak akan ditunda dan tidak akan diubah!

Lalai terhadap akhirat akan mengacaukan seluruh perhitungan! Standar yang benar akan berubah di tangan orang-orang yang lalai terhadap akhirat. Mereka tidak memilik- gambaran yang benar terhadap kehidupan dan prinsip-prinsip hidup. Ilmu mereka itu hanyalah ilmu lahiriyah yang dangkal dan kurang. Karena perhitungan akhirat dalam hari seorang insan akan merubah pandangananya terhadap seluruh perkara yang terjadi di dunia ini. Kehidupannya di alam dunia ini hanyalah sekelumit dari fase perjalanannya yang panjang. Bagiannya di dunia ini amat sedikit dibandung dengan bagiannya di akhirat.

Maka tidak selayaknya bagi manusia bersandar kepada kehidupan yang sementara dan bagian yang seiikit ini. Oleh karena itu, tidak akan dapat bertemu antara seorang insan yang beriman kepada hari akhirat dan memprioritaskan perhitungan akhirat dengan orang yang hanya mernprioritaskan perhitungan dunia dan tidak melihat kehidupan setelah mati!

Keduanya tidak akan memiliki pandangan dan perhitungan yang sama dalam persoalan-persoalan kehidupan! Tidak pula sama dalam prinsip-prinsip kehidupan yang beraneka ragam!

Keduanya tidak akan sepakat dan alani memutuskari hukum yang berkaitan dengan persoalan, keadaan atau kondisi tertentu.

Keduanya memiliki standarisasi yang berlainan. Keduanya memilik sudut pandang yang berbeda. Keduanya memiliki pelita yang berbeda dalam melihat segala sesuatu, dalam melihat peristiwa don persoalan hidup.

Hamba dunia hanya mengetahui apa yang tampak saja dalam kehldupan dunia… sementara hamba Allah mengetahui rahasia dibalik realita kehidupan dunia dan hubungannya dengan sunnatullah, aturan dan syariat-Nya, yang tersusun rapi secara lahir maupun bathin, nyata maupun ghaib, dunia maupun akhirat, kehidupan maupun kematian, masa lalu, sekarang maupun masa akan datang.

Itulah ufuk ilmu yang bersih, luas dan universal. Islam mengajak ummat manusia kepadanya. Yang akan rnengangkat mereka ke tempat yang tinggi. Fitrah hukum alam ini seluruhnya membisikkan bahwa ilmu agama ini tegak di atas kebenaran, kokoh di atas aturan-Nya, tidak akan tercerai berai jalannya, tidak akan bertolak belakang satu sama lain, tidak berjalan seiring dengan spekulasi buta, tabiat kasar dan hawa nafsu yang labil.

Ilmu ini berjalan di atas sistem-Nya yang rapi dan kokoh yang telah ditetapkan secara terperinci.

Salah satu konsekuensi kebenaran yang merupakan pilar alam semesta ini ialah adanya alam akhirat tempat pembalasan segala amal perbuatan. Amal baik atau buruk mcmperoleh ganjaran secara scmpurna. Semua itu telah ditentu-kan batas waktunya sejalan dengan hikmah yang Mahatinggi. Semua urusan akan sampai pada waktu yang telah dijanjikan tidak akan diundur dan tidak akan diajukan sesaat pun.

Bilamana tidak ada seorang pun yang tahu bila datangnya hari Kiamat. Maka itu bukanlah berarti hari Kiamat tidak akan datang! Akan tetapi penang-guhan waktu itu memperdaya orang-orang yang hanya mengetahui apa-apa yang tampak dari kehidupan dunia ini sementara mereka lalai terhadap akhirat.

Maka dari itu, Islam menawarkan ilmu yang berisi ‘aqidah yang me-motivasi diri, menghidupkan dan menyadarkan jiwa, menaikkan dan meninggikan derajatnya. Mendorongnya kepada iman dari kepada pelaksanaan konsekuensi amal dari keimanan secara langsung begitu iman melekat dalam hatinya. Sehingga hatinya menjadi hidup dan khusyu’ menghadap Maulanya. Maka terpancarlah kecintaan kepada-Nya yang menggerakkan anggota badannya untuk kembali kepada fitrahnya yang asli. la pun berhasil mencapai tujuan dan cita-citanya. Lumpur-lumpur kehidupan dunia tidak lagi menghalargi langkahnya, kecintaan-nya kepada kampung dunia tidak lagi menghadang perjalannya dan ia tidak lagi condong dan kerasan kepada dunia untuk selama-lamanya.

Islam menawarkan ilmu yang menjadi pedoman dalam meneliti dan mentadabburi yang jauh berbeda dengan pedomari-pedoman produk manusia. Karena Islam datang untuk menyelamatkan manusia dari kelemahan mereka dalam membuat pedoman, dari kekeliruan dan penyimpangan-penyimpangan mereka yang berada dibawah permainan hawa nafsu, tuntutan syahwat dan tipu daya iblis.

Allah SWT berfirman, “Kami akan meraperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur-an itu berar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu) babwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu. Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Rabb mereka. Ingatlah, babwa sesungguhnya Dia Mahameliputi segala sesuatu,” ( Fushshilat: 53-54).

Itulah janji Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah akan memperlihatkan kepada mereka rahasia-rahasia alam yang tersembunyi dan rahasia diri mereka sendiri.

Allah SWT berjanji akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Dia-lah Ilah yang haq, inilah din yang lurus dan inilah Kitab yang agung dan inilah Rasul yang mulia yang menuntun ummat manusia selangkah demi selangkah di jalan mendaki menuju puncak kehidupan yang tinggi sesuai dengan apa yang telah Allah wahyukan kepada beliau.

Di tengah perjalanan dunia, Allah menjelaskan kepada ummat manusia pedoman hidup mereka, dasar syari’at mereka, kaidah-kaidah mu’amalah mereka dalam berekonomi, berpolitik, bermasyarakat dan berwawasan. Dan meresapkan ke dalam akal pikiran mereka kaidah-kaidah yang tersusun rapi dan kokoh dalam segala disiplin ilmu pengetahuan alam dan dunia. Dan meresapkan ke dalam jiwa mereka kemanisan iman dan kontribusiriya, kebenaran syari’at dan aktualisasinya, kebutuhan dunia dan cara pengelolaannya.

Allah telah memenuhi janji-Nya. Dia telah menampakkan kepada ummat manusia tanda-tanda kekuasaan-Nya di segenap ufuk semenjak Allah menetapkan janji tersebut. Allah telah menampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada diri mereka sendiri. Daa sampai sekarang tanda-tanda kekuasaan-Nya terus Dia perlihatkan kepada mereka.

Ummat manusia sekarang tentu dapat melihat, mereka tentu dapat me nyaksikan banyak sekali rahasia-rahasia alarn yang telah mereka ketahui semenjak firman Allah SWT itu turun. Ufuk-ufuk langit telah terbuka bagi mereka. Ilmu-ilmu tentang eksplorasi langit dan bumi tidaklah lebih sedikit dibanding dengan ilmu-ilmu tentang anatomi tubuh manusia.

Ummat manusia telah mengetahui banyak perkara, dan mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju Allah!

“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlibatkan ke-padamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka karnu akan mengetahuinya. Dan Rabb-mu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan,” (QS. An-Naml (27): 93).

Mereka telah melihatnya, mereka telah membacanya dan mereka telah mengetahuinya… namun adakah mereka mensyukurinya!?

Siapa saja yang melihat hamparan alam semesta yang terbuka dan maha luas ini tentu akan tumbuh rasa takut dan khusyu’ dalam hati. Sebagaimana yang Allah katakan dalam Kitab-Nya yang diturunkan kepada hamba pilihan-Nya, Muhammad SAW. Allah SWT berfirman, “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara, hamba-hamba-Nya, hanya-lah ulama. Sesunggubnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun,” (Faathir: 27-28).

Sungguh! Alam ini merupakan lembaran yang sangat indah dan menawan, dihiasi dengan berbagai macam warna dan bentuk. Buah-buahan yang beraneka warna, gunung-gunung dengan jalan-jalan yang beraneka warna. Demikian pula manusia, hewan dan binatang ternak yang beraneka ragam warna dan jenis.

Alam ini merupakan lembaran yang menakjubkan untuk dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang lain, yaitu keaneka ragaman warna. Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikum uu bcnar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui, ” (Ar-Ruum: 22).

Sungguh, itu merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah yang merupa-kan bukti kebenaran Kitab yang Allah turunkan ini. Tanda kekuasaan yang tersebar di seluruh penjuru bumi; Keaneka ragaman warna di atas seluruh permukaannya: Dari buah-buahan, gunung-gunung, manusia, hewan sampai binatang ternak, sehingga hati tertarik kepada ciptaan-ciptaan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, lalu hati khusyu’ kcpada Allah dan tunduk mengikuti aturan-aturan-Nya yang haq. Dia-lah yang telah membuka hamparan alam semesta yang indah dan mengagumkan corak dan warnanya, dan Dia-lah yang telah mengatur segala prosesnya; Dia-lah yang mengatakan, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara bamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Faathir: 28).

Itulah pedoman Islam dalam membimbing jiwa yang senantiasa tunduk dan menuntunnya kepada kehidupan yang Islami.

Adapun pengetatan yang hanya bersifat -teoritis belaka- dan tidak dapat memberikan inti dan buah ilmu. . . Itu sebenarnya bukanlah ilmu; Sebab tidak dapat memelihara diri dari kubangan lumpur dunia, tidak dapat menolak tun-tutan hawa nafsu, tidak dapat membendung tipu daya syaitan dan tidak dapat memberi hasil yang posltif kepada ummat manusia. Siapa saja yang meneliti kehidupan orang-orang kafir yang terpedaya dengan kilauan modernisasi dan kemajuan iptek dan materi tentu dapat melihat kenyataan tersebut. Itulah yang telah Allah SWT tetapkan dalam Kitab-Nya dan telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits shahih.

Maka dari itu, orang-orang yang mewakili suara ummat ini hendaknya takut kepada Allah, terutama orang-orang yang mengatur urusan pendidikan kaum Muslimm. Banyak di antara mereka yang menjauhkan pedoman belajar ilmiah dari buah yang diharapkan darinya, yaitu memperdalam keimanan kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari akhirat. Menurut mereka tujuan belajar hanyalah memperoleh kemampuan untuk menafsirkan atau menjabarkan perkara-perkara lahiriyah saja. Oleh sebab itu lahirlah generasi-generasi yang menyimpang dan jauh dari nilai ukhrawi. Mereka tidak mengusai ilmu dunia dan tidak pula meraih kebaikan akhirat.

Dan oleh karena itu, metodologi syaitan dalam pengajaran materi-materi ilmiah harus dibuang jauh-jauh dan metodologi Rabbani harus dihidupkan kembali. Agar hati menjadi hidup saat melihat kehebatan ciptaan Allah yang telah memberikan segala sesuatu kepada makhluk-Nya dan memberi mereka petunjuk.

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur-an itulah yang hak dari Rabb-mu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj (22): 54).

Sumber: Dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 11, 2012 in Uncategorized

 

assalamulaikum jika anda sudah membaca artikel saya silakan tinggalkan komentar anda tentang tulisan saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: