RSS

LARANGAN MENUNTUT ILMU DENGAN NIAT SELAIN MENCARI RIDHO ALLOH AZA WAJAL

11 Jul

Dalam hadits Abu Hurairah r.a. terdahulu telah disebutkan, “Kemudian seorang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Ia akan dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkanlah nikmat-nikmat Allah kepada dirinya dan ia pun mengakuinya. Lalu Allah berkata, ‘Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an karena-Mu semata. Allah berkata, ‘Engkau dusta, sebenarnya engkau mempelajari ilmu dan mengajarkannya supaya disebut alim. Engkau membaca Al-Qur’an supaya disebut qori. Begitulah kenyataannya.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret, lalu dilemparkan ke Neraka.” [ Silahkan lihat dalam bab larangan keras terhadap riya’] Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan ulama atau untuk mendebat orang-orang jahil dan janganlah kalian memilih tempat terhormat dalam majlis. Barangsiapa berbuat demikian, maka neraka lah tempatnya.” [HR Ibnu Majah [254], Ibnu Hibban [90], Al-Hakim [I/86], Ibnu Abdil Barr dalam kitab Jami’Bayaanil’Ilmi [I/187], dan Al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih [II/88]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menuntut ilmu, yang seharusnya ia tuntut semata-mata mencari wajah (ridha) Allah Azza wa Jalla, namun ternyata ia menuntutnya semata-mata mencari keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi Surga pada hari Kiamat.” [HR Abu Dawud [3664], Ibnu Majah [252], Ahmad [II/338], Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’Bayanil ‘Ilm [I/190], Al-Khathib al-Baghdadi dalam Taarikh Baghdad [V/346-347 dan VIII/78], Iqtidha’ul ‘Ilm al-’Amal [102], al-Faqiih wal Mutafaqqih [II/89] dan Al-Hakim [I/58]).

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata, “Bagaimanakah keadaan kalian bila fitnah menimpa kalian sehingga membuat beruban orang-orang dewasa dan membuat tua anak-anak muda. Orang-orang menjaduikannya sebagai sunnah. Bila dirubah serempak, mereka katakan, ‘Sunnah telah dirubah!’

‘Bilakah hal itu terjadi wahai Abu Abdirrahman?’ tanya mereka. “Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Jika para qari’ melimpah jumlahnya sedang ahli fiqih sedikit. Jika pemimpin-pemimpin kalian bertaburan banyak sedang orang-orang yang amanat sangat sedikit. Keuntungan dunia dicari dengan amalan akhirat dan orang-orang tidak lagi mendalami ilmu agama.” [Shahih, HR Ad-Daarimi [I/64], Al-Hakim [IV/514], dan ‘Abdurrazzaq [XI/352]).

Diriwayatkan dari Sulaim bin Qais, ia berkata: “Suatu ketika ‘Umar berkhutbah di hadapan kami. Beliau menyebutkan fitnah-fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Ali r.a. Berkata kepadanya, ‘Bilakah hal itu terjadi wahai Amir?’ ‘Umar r.a. Berkata, ‘Jika orang-orang tidak lagi mendalami ilmu agama, mereka menuntut ilmu bukan untuk diamalkan dan keuntungan dunia dicari dengan amalan-amalan akhirat.” (Shahih, HR Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf [XI/360/20743], Al-Hakim dalam Al-Mustadrak [IV/451], dan Syaikh al-Albani dalam Shahibut Targhiib wat Tarhiib [106]). Kandungan Bab:

A.Riya’ bisa menyusup ke dalam ilmu melalui beberapa sisi:

Dari sisi pakaian, misalnya dengan memakai pakaian yang kasar dan compang-camping untuk menampakkan seolah-olah zuhud dan prihatin. Sebagaimana yang dilakukan oleh pengikut tasawwuf. Sebagian mereka ada yang mengkhususkan satu jenis pakaian agar orang-orang memandanganya sebagai ulama. Dengan pakaian itu orang-orang akan menyebutnya, “Si Fulan ulama!”

Dari sisi perkataan, yaitu dengan menghafal hadits atau atsar tertentu dengan tujuan untuk berdialog dengan ulama atau untuk mengimbangi mereka, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau untuk merendahkan mereka. Dapat juga dengan merendahkan suara dan melembutkannya ketika membaca Al-Qur’an untuk menunjukkan seolah ia memiliki perasaan takut dan sedih atau sejenisnya.

Dari sisi perbuatan, misalnya memanjangkan berdiri dalam shalat untuk memamerkannya kepada orang lain, atau memanjangkan ruku’ atau sujud, menunjukkan seolah khusyu’ dan tunduk. la memperbagus shalatnya karena tahu orang-orang sedang melihatnya.

Dari sisi para tamu yang mengunjunginya dan teman-temannya. Yaitu ia meminta seorang ulama agar sudi mengunjunginya, dengan tujuan supaya orang-orang mengatakan: “Sesungguhnya ulama kondang telah mengunjungi si Fulan!” “Sesungguhnya ahli ilmu sering mengunjunginya!”

Sebagian orang memamerkan jumlah gurunya yang banyak kepada orang-orang. Meskipun gurunya itu adalah seorang ahli bid’ah. Supaya orang-orang mengatakan, la telah menuntut ilmu dari banyak guru! Atau ia telah diberi ijazah oleh sejumlah kyai. Lalu ia membanggakan diri dengan hal tersebut. Kita memohon keselamatan kepada Allah!

B.Barangsiapa melakukan hal tersebut, maka ia berhak mendapat kemurkaan dan kemarahan Allah,

dan Allah akan menjerumuskan wajahnya ke dalam api Neraka Jahannam, wal ‘iyaazdzu billah.

Sumber: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 11, 2012 in Uncategorized

 

assalamulaikum jika anda sudah membaca artikel saya silakan tinggalkan komentar anda tentang tulisan saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: